Makalah Perbedaan Pendidikan Islam dengan Pendidikan Barat

Posted on 07.56 | By muhammad ardiansyah | In


A.Pendahuluan
Pemahaman Pendidikan Islam sebagai mana yang akan dijelaskan memilki perbedaan-perbedaan yang sangat mencolok dengan bagaimana dunia barat memahami pendidikan. Jika dalam Islam Pendidikan harus meliputi tiga aspek yaitu : Jasad ,Ruh , Intelektualitas , maka dalam pandangan barat semua aspek itu tidak perlu selalu diidentikkan. Dalam pendidikan Barat juga lebih ditekankan pada rasionalitas semata . Dari segi karakteristik, terdapat perbedaan antara pendidikan Islam dan Barat. Menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dalam Islam pendidikan memiliki karakteristik, yaitu pertama, Penguasaan Ilmu Pengetahuan. Ajaran dasar Islam mewajibkan mencari ilmu pengetahuan bagi setiap Muslim dan muslimat. Setiap Rasul yang diutus Allah lebih dahulu dibekali ilmu pengetahuan, dan mereka diperintahkan untuk mengembangkan llmu pengetahuan itu. Hal ini sesuai hadits Rasulullah saw ,
طلب العلم فريضة علي كل مسلم و مسلمة
Kedua, Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Ilmu yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain
. Nabi Muhammad saw sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengethauan, tetapi tidak mau memberi dan mengembangkan kepada orang lain (HR. Ibn al-Jauzy).
كاتم العلم يلعنه كل شيء حتى الحوت في البحر والطير في السماء
Ketiga, penekanan pada nilai-nilai akhlak dalam penguasaan dan pengembangan ilmu penetahuan. Ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan Islam terikat oleh nilai-nilai akhlak .
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Keempat, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, hanyalah untuk pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umum, seperti pada hadits riwayat Abu al-Hasan Bin Khazem bin Anas ,

تعلموا من العلم فو الله لا تؤجرون بجميع العلم حتى تعملوا

Kelima, penyesuaian terhadap perkembangan anak.
Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan Islam diberikan kepada anak sesuai umur, kemampuan, perkembangan jiwa, dan bakat anak. Setiap usaha dan proses pendidikan haruslah memperhatikan faktor pertumbuhan anak. Ali bin Abi Thalib sebagaimana dikutif Fazhur Rahman berkata :
Heart of people have desires and aptitudes; sometimes they are ready to listen and others time are not. Enter to people's hearts through their aptitudes. Talk to them when they ready to listen. For the condition of heart is such that you force to do something, then it becomes blind (and refuses to accept it). Keenam, pengembangan kepribadian. Bakat alami dan keampuan pribadi tiap-tiap anak didik diberikan kesempatan berkembang sehingga bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Setiap murid dipandang sebagai amanah Tuhan, dan seluruh kemampuan fisik & mental adalah anugerah Tuhan. Perkembangan kepribadian itu berkaitan dengan seluruh nilai sistem Islam, sehingga setiap anak dapat diarahan untuk mencapai tujuan Islam.

Ketujuh, penekaanan pada amal saleh dan tanggung jawab. Setiap anak didik diberi semangat dan dorongan untuk mengamalkan ilmu pengetahuan sehingga benar-benar bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Amal shaleh dan tanggung jawab itulah yang menghantarkannya kelak kepada kebahagiaan di hari kemudian kelak (HR. Muslim).

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث : صدفة جارية أو عمل ينتفع به وولد صالح يدعوله
Dengan karakteristik-karakteristik pendidikan tersebut tampak jelas keunggulan pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan lainnya. Karena, pendidikan dalam Islam mempunyai ikatan langsung dengan nilai-nilai dan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupannya.

B.Pembahasan
Konsep Dasar Pendidikan Islam
Pembicaraan tentang konsep dasar pendidikan islam ini mencakup pengertian istilah tarbiyah,ta’lim, ta’dib, dan pendidikan islam. [1]
1.Pengertian Tarbiyah
Abdurrahman An-nahlawi mengemukakan bahwa menurut kamus Bahasa Arab, lafal At-Tarbiyah berasal dari tiga kata.[2]
            Pertama , raba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh.
Makna ini dapat dilihat dalam firman Allah :
وما ءاتيتم من ربا ليربوا في أموال الناس فلا يربوا عند الله
Dan suatu riba (tambahan) yang kalian berikan agar dia menambah pada harta manusia ,maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.(QS.Ar-Rum(30):39).
           
Kedua, rabiya-yarba dengan wazan (bentuk) khafiya-yakhfa, yang berarti menjadi besar .  
Atas dasar makna inilah Ibnu AI-Arabi mengatakan :
فمن يك سائلا عني فإني بمكة منزلي وبها ربيت
Jika orang bertanya  tentang diriku, maka mekah adalah tempat tinggalku dan di situlah aku dibesarkan .
Ketiga, rabba- yarubbu dengan wazan (bentuk) madda-yamuddu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga ,dan memelahara. Makna ini antara lain ditunjukkan oleh perkataan Hasan bin Tsabit , sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Al-Manzhur dalam Lisan Al-Arab :
ولانت أحسن إذ بذرت لنا                 يوم الخروج بساحة القصر
من ذرية بيضاء صافية                   مما تربب جائرة البحر
Sesungguhnya ketika engkau tampak pada hari ke luar di halaman istana,engkau lebih baik dari pada sebutir mutiara putih  bersih yang dipelihara oleh kumpulan air di laut .[3]  
            Dari ketiga asal katadi atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur, yaitu :
1.      Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
2.      Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.
3.      Mengarahkan deluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya.
4.      Proses ini di laksanakan secara bertahap .[4]
2 .Pengertian Ta’lim
At-ta’lim merupakan bagian kecil dari at-tarbiyah ai-aqliyah yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan keahlian berfikir ,yang sifatnya mengacu pada domain kognitif . Hal ini dapat dipahami dari pemakaian kata ‘allama’ dikaitkan dengan kata ‘aradha’ yang mengimplikasikan bahwa proses pengajaran adam tersebut pada akhirnya diakhiri dengan tahap evaluasi . konotasi konteks kalimat itu mengacu pada evaluasi domain kognitif ,yaitu penyebutan nama-nama benda yang diajarkan ,belum pada tingkat domain yang lain .Hal ini memberi isyarat bahwa dibanding dengan at-tarbiyah.


3 .Pengertian Ta’dib
Muhammad Nadi Al-Badri , sebagaimana dikutip oleh Ramayulis mengemukakan ,pada zaman klasik ,orang hanya mengenal kata ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidiakan . Pengertian seperti ini terus terpakai sepanjang masa kejayaan islam , hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilakan oleh akal manusia pada masa itu disebut Adap , dan seorang pendidik pada masa itu disebut Mu’adib.
            Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaanya .(Al-Attas :60). Pengertian ini berdasarkan Hadist Nabi :
أدبني ربي فاحسن تأديبي
Tuhanku telah mendidikku dan telah membaguskan pendidikanku .[5]
4 .Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan islam adalah proses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya . Pengertian tersebut  mempunyai lima prinsip pokok, yaitu :
a.       Proses tranformasi dan internalisasi
b.      Ilmu pengetahuan dan nilai-nilai.
c.       Pada diri anak didik
d.      Melaluipenumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya .
e.       Guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya .

Dari keterangan-keterngan di atas sudah mulai terlihat perbedaan antara pendidikan Islam dan Barat dalam konsep dasar pendidikannya .
Tujuan Pendidikan Islam
            Tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan kamil yang memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan,dan pewaris nabi. Tujuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut .
a.       Terbentuknya “insan kamil” .
b.      Terciptanya insan kaffah .
c.       Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah Allah, serta pewaris Nabi.
Pengertian pendidikan Barat dan Asalnya
1.Pengertian dan asal.
            Dalam pendidikan Barat, ilmu tidak lahir dari pandangan hidup agama tertentu dan diklaim sebagai sesuatu yang bebas nilai. Namun sebenarnya tidak benar-benar bebas nilai tapi hanya bebas dari nilai-nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan. Menurut Naquib al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat tidak dibangun di atas wahyu dan kepercayaan agama namun dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral, yang diatur oleh rasio manusia, terus menerus berubah . Sehingga dari cara pandang yang seperti inilah pada akhirnya akan melahirkan ilmu-ilmu sekular.
Masih menurut al-Attas, ada lima faktor yang menjiwai budaya dan peradaban Barat, yaitu:
pertama, menggunakan akal untuk membimbing kehidupan manusia; 
kedua, bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran;
             ketiga, menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular;
             empat, menggunakan doktrin humanism.
             kelima, menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.
 Kelima faktor ini amat berpengaruh dalam pola pikir para ilmuwan Barat sehingga membentuk pola pendidikan yang ada di Barat.
Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Perancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran. Selain itu para filosof lainnya seperti John Locke, Immanuel Kant, Martin Heidegger, Emillio Betti, Hans-Georg Gadammer, dan lainnya juga menekankan rasio dan panca indera sebagai sumber ilmu mereka, sehingga melahirkan berbagai macam faham dan pemikiran seperti empirisme, humanisme, kapitalisme, eksistensialisme, relatifisme, atheisme, dan lainnya, yang ikut mempengaruhi berbagai disiplin keilmuan, seperti dalam filsafat, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lainnya .


2. Konsep pendidikan Barat
Ada 4 konsep yang di pegang oleh prespektif barat. Mulai dari Sekuler, Liberal, Pragmatis, dan Materialis. Dari 4 konsep ini, dapat diartikan bahwa konsep pendidikan prespektif barat sangat berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Sekuler
Memisahkan antara ilmu dengan agama. Maksudnya, pendidikan barat lebih mementingkan ilmu daripada agama yang di dapat dari ilmu itu. mereka hanya mementingkan Jasmani dan tidak memikirkan akan rohani.

Liberal
Bebas. Maksudnya, pendidikan barat itu bebas melakukan segala hal yang di suka, tetapi tetap mengarah akan ilmu yang dipelajarinya itu.

Pragmatis
Praktis atau bersifat sementara. Mereka menganggap bahwa ilmu itu dipelajari agar seseorang dapat menggapai cita-citanya. Mereka hanya fokus akan satu titik berat yang dituju oleh pemikirannya. Proses penggapaian cita-cita itulah yang membuat seseorang menjadi lebih terstruktur untuk menggapainya secara maksimal. Mereka tidak mempelajari akan hal-hal yang seharusnya mereka pelajari disekitarnya seperti pendidikan sosial dan sebagainya.

Materialis
Sebatas "materi" saja. Jadi, pendidikan itu hanyalah sebatas materi. Mereka tak memikirkan kedepan akan apa yang mereka sedang pelajari itu. Mereka hanya tertuju pada satu tujuan yaitu hasil nilai pelajaran yang baik.
3. Tujuan Pendidikan Islam
            Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan Barat dibentuk dari acuan pemikiran falsafah mereka yang dituangkan dalam pemikiran yang bercirikan materialisme, idealisme, sekularisme, dan rasionalisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. René Descartes misalnya, tokoh filsafat Barat asal Prancis ini menjadikan rasio sebagai kriteria satu-satunya dalam mengukur kebenaran.
Kebanyakan dari tujuan pendidikan barat mengacu kepada unsur materialisme sehingga banyak yang beranggapan bahwa hidup hanyalah untuk mencari kesenangan saja atau belajar hanya untuk bekerja ,hal itu di sebabkan oleh para pemikir barat yang hanya bersandar pada rasionalisme saja.


Kesimpulan
1.      Pendidikan Barat memiliki perbedaan yang jauh dengan Islam
2.      Pendidikan Islam dan Barat berbeda dalam segi konsep dan tujuan
3.      Tujuan pendidikan Islam selain unsur materialis yaitu yang terpenting adalah Ibadah
4.      Pendidikan barat hanya bersandar pada rasionalisme dll.
5.      Pendidikan Islam berpatokan pada wahyu.

           
Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan metodologi Barat dan Islam dari
sudut keilmuan terletak pada peletakan status ontologi dan epistimologi pengetahuan. Kalau Barat akhirnya cenderung menolak status ontologis objek-objek metafisika dan lebih memusatkanperhatiannya pada objek-objek fisik (positivistik), epistimologi Islam masih mempertahankan statusontologis yang tidak hanya objek-objek fisika, tetapi juga objek-objek metafisika. Perbedaan carapandang serta keyakinan terhadap status ontologis ini telah menimbukan perbedaan yang cukupsignifikan di antara kedua sistem epistimologi tersebut dalam masalah-masalah yang menyangkutsoal klasifikasi ilmu dan metode-metode ilmiah.
Perbedaan pada sisi lain, seperti dari sudut pendidikan ternyata Barat melihat anak didik
sebagai manusia yang merdeka dan memiliki kebebasan dan sementara Islam memandangmanusiasebagai makhluk Tuhan dan sosial yang memiliki potensi sesuai dengan fitrahnya.
 Akan tetapi, Baratlebih mengedepankan akal dengan mengenyamping kalbu. Artinya ilmu pengetahuan hanyamerupakan teori-teori inderawi yang dapat diamati, diteliti serta dibuktikan saja. Oleh karena itu,tugas utama sebuah epistimologi adalah menunjukkan bagaimana ilmu itu mungkin secara filosofis.
Dan, merupakan tugas filsafat ilmu pengetahuan untuk menuntun bahwa pengetahuan itu mungkinsecara filosofis. Untuk islamisasi ilmu pengetahuan dan pendidikan sangat perlu kembalimengintegrasikan antara al-kitab, al-huda, dan al-‘ilma atau agama-etika-teknologi, sebagai yangtelah dilakukan para ilmuan muslim pada abad pertengahan.







Daftar pustaka
Umar,Bukhari .Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta.2010.Amzah.
pendidikan blogspot.com




[1] Drs.Bukhari Umar,M.Ag.Ilmu pendidikan Islam.Jakarta:AMZAH, 2010.h  21.
[2] Ibid.
[3] Ibid, h 22
[4] Ibid, h 23
[5] Ibid, h 26

Comments (0)

Poskan Komentar